13 Juni 2009

Memahami Skenario Pintar dan Licik

Karena panas yang menyengat, saya sempatkan mampir ke sebuah warung di pinggir jalan. Selepas parkir, teh botol menjadi pesanan saya pada pemilik warung.

Saat itu, bukan hanya saya, tapi ada beberapa orang lain yang juga sedang menghindari teriknya matahari. Seperti biasa, selain melepas dahaga, mereka sering kali melepas obrolan pada temannya mengenai pekerjaan yang dilakoni. Entah itu sekedar cerita tentang bosnya yang pelit atau mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.


Setengah menguping, saya mendengar, “pinter juga, luh. Kalo tau caranya kaya gini, kenapa ngga kasih tau dari dulu!” Sambil tersenyum, orang yang satunya membalas dengan nada berbangga, “kalo ngga gini, dari mana dapet tambahan!”

Setengah melirik, saya pun melihat ada beberapa berkas yang sepertinya sedang mereka manipulasi. Entah itu nilainya atau peruntukkannya. Mereka mengutak-atik sampai hasilnya terbilang masuk akal dan bisa membanggakan atasannya. Plus, bisa mengantongi sedikit “uang panas”.

Akh, mendapat “uang panas” di tengah matahari yang sedang panas. Menyebut pintar orang yang memanipulasi data. Harusnya, orang itu bukan disebut pintar, tapi licik. Bedanya memang tipis, sama-sama terbilang pandai, tapi orang licik menggunakan kepandaiannya untuk memutarbalikkan fakta, berbuat curang, dan berlaku culas.

Samarnya interpretasi, membuat orang menisbikan arti dari kedua kata tersebut. Bahkan, sering tak tahu bedanya. Padahal, artikulasinya jelas berbeda arah dan sisi. Si Pintar dan Si Licik, sama-sama pandai dalam mencari solusi dari masalah yang dialaminya. Tapi, Si Pintar mencari jalan keluar dengan cara yang positif, sedangkan Si Licik pandai menemukan jalan keluar melalui cara yang negatif. Si Pintar menguntungkan orang lain, sedang Si Licik merugikan orang lain.

Kembali pada drama warung kopi di atas. Mendengar obrolan mereka, saya sendiri tidak heran, karena sekarang ini memang banyak orang yang merasa pandai padahal mereka itu licik. Mereka saja yang merasa pandai, tapi sebenarnya mereka itu adalah orang yang mudah menyerah, penakut, dan gampang kalah. Mudah menyerah mencari jalan dengan cara yang positif, penakut mencari uang yang halal, gampang kalah mencari solusi sesuai aturan berlaku.

Mereka-mereka inilah yang senang “menggerogoti”, mencari jalan pintas, dan menghalalkan segala cara. Bangga dengan hasil kerjanya yang terlihat bagus, padahal kropos tanpa tulang. Senang “menjilat” orang lain di atas data yang mereka manipulasi sendiri, padahal itu artinya mereka berbohong pada diri sendiri. Berbohong sering kali menjadi kendaraan Si Licik dalam mengubah makna tersurat.

Selesai menenggak satu botol teh dan rasa pegal di pinggang sudah hilang, saya pun beranjak dari warung tersebut. Ketika hendak membayar, saya melihat pedagangnya sedang menonton iklan calon presiden dan wakil di televisi 14 inchi miliknya.

Sejenak, saya pun melempar pandangan ke iklan tersebut yang isinya hanya retorika mengajak masyarakat untuk memilih. Tentunya, dengan iming-iming yang dipaksakan mengikuti keinginan masyarakat. Berlagak menjadi “dewa penyelamat” di saat ada maunya.

Dari iklan kampanye politik tersebut, ada satu hal yang terus menjadi pertanyaan bagi saya. Kenapa mereka itu mendadak seperti orang paling pintar di negeri ini? Mengaku punya solusi memajukan negara yang katanya amburadul. Mengumbar data-data guna mendukung pernyataan-pernyataan yang mereka lontarkan. Bahkan, mereka pun tidak segan menjatuhkan kinerja dan menyalahkan lawan politiknya. Mereka ini siapa? Si Licik atau Si Pintar.

Memang, dalam dunia politik, apa saja bisa terjadi. Kamuflase Si Licik bisa saja tak terendus dan identitas Si Pintar pun bisa saja tak terungkap. Tapi, hal itu bisa diketahui kalau kita sebagai masyarakat punya keinginan untuk mencari tahu. Tidak mudah percaya retorika politik dan informasi satu arah yang memang bertujuan membentuk opini positif publik dari salah satu calon presiden dan wakil.

Sekedar mengingatkan, menjelang Pilpres nanti, bersikaplah kritis terhadap apa yang diberikan berbagai media kampanye politik. Namun, kita juga tidak harus apatis atau malah menelan mentah-mentah konten yang disajikan. Bila begitu, dengan sendirinya kita pun akan tahu siapa yang memang pintar dan siapa yang licik. Siapa yang pantas memimpin dan siapa yang malah akan memukul mundur bangsa ini.

Read More......

Zyrex - Wakatobi Mini 963

Seperti Bee, Wakatobi Mini 963 adalah pelengkap lini produk dengan nama sama. Wakatobi yang sebelumnya hadir dalam bentuk notebook tablet 12.1 inch, kini memiliki “adik” Wakatobi Mini 963 berbentuk netbook tablet/convertible dengan ukuran layar touchscreen 8.9 inch.

Seperti tablet pada umumnya, Wakatobi Mini 963 bisa dipakai sebagai netbook biasa (dengan layar dan keyboard) dan otomatis masuk mode tablet begitu layar mungilnya diputar dan dilipat.


Wakatobi Mini sebelumnya dirancang sebagai netbook untuk edukasi anak-anak dengan pengalaman interaktif terbaik. Tentunya, netbook ini hadir dengan berbagai aplikasi edukasi berbasis sentuhan (touch-optimized). Namun, melihat tidak adanya kategori netbook tablet/convertible di Indonesia, kini Zyrex memasarkan Wakatobi Mini bukan sebagai netbook tablet edukasi, tapi untuk pengguna umum yang membutuhkan fitur tablet/touchscreen dengan harga terjangkau untuk aplikasi bisnis atau awam.

Netbook tablet/convertible pertama ini memiliki harga Rp 4.999.000. Seperti Bee 103G, untuk sementara hanya tersedia dalam jumlah terbatas di cabang-cabang Zyrex tertentu.

Fitur :
- Ringan dengan form factor yang kecil dan kokoh, keyboard tahan air, tahan benturan, dan tahan debu dengan engsel yang sudah diperkuat.
- Desain bagian depan dan belakang yang sleek dan trendi. Dengan desain batere khusus, baik dan mantap saat digunakan dalam mode tablet
- Webcam yang bisa diputar 180 derajat dengan fungsai Live Framing, One Button Capture, Adjustable Resolution, Video Capture, dan sebagainya.
- Touch Optimized Digital Writing/Drawing memungkinkan pengguna untuk menulis dan menggambar menggunakan stylus yang disediakan. Dilengkapi dengan handwiriting recognition, on screen soft keyboard, dan kemampuan membaca pen-gesture (gerakan stylus) untuk fungsi penulisan tertentu.
- Berbagai aplikasi edukasi dan umum yang dirancang khusus untuk digunakan dengan layar sentuh dan tampilan antar muka (user interface) yang sudah disederhanakan.
- Aplikasi Quick Launcher yang dapat diaktifkan menggunakan hot button yang terdapat pada tepi layar. Menu dapat diatur sesuai dengan aplikasi yang paling sering dipakai.
- Auto Screen Re-Orientation, kemampuan untuk berpindah orientasi (horizontal-vertikal) secara otomatis sesuai netbook, tanpa harus menekan tombol apapun.



Read More......

Zyrex - Bee 103G

Setelah sebelumnya hadir dengan Bee 106M dan Bee 106P yang berhasil meraih predikat netbook terbaik dari Majalah Infokomputer Maret lalu, kini hadir Bee 103G melengkapi jajaran netbook berkualitas Zyrex dengan nama Bee.

Bee 103G sudah dilengkapi dengan modem 3.5G atau lebih dikenal dengan HSDPA yang sudah built-in. Karena sudah dipersenjatai dengan Intel Atom, Bee 103G juga dapat terkoneksi ke dunia maya menggunakan jaringan WiFi sehinggan membebaskan pengguna untuk memilih tipe koneksi yang paling sesuai.


Profil pengguna Bee 103G adalah individu modern dengan mobilitas tinggi yang menginginkan kepraktisan dalam sehari-hari. Mereka ingin selalu dapat terkoneksi ke dunia maya, baik melalui hotspot WiFi atau HSDPA untuk urusan pekerjaan atau hiburan.
Netbook terbaru Zyrex ini, dijual dengan harga Rp 5.499.000 dan untuk sementara hanya tersedia dalam jumlah terbatas di cabang-cabang Zyrex tertentu.

Spesifikasi Bee 103G :
- Processor Intel Atom N270 dengan clockspeed 1.6 Ghz dan system bus 533 MHz dengan 512 KB Cache Memory
- Chipset Intel 945GC, chipset hemat biaya dengan graphic controller terintegrasi, multiple I/O port ternasuk PCI Express dan USB, Intel High Definition (HD) Audio
- Intel Graphic Media Accelarator 950, meningkatkan performa graphic yang memberikan visualisasi warna dan kejernihan gambar tanpa membutuhkan discrete graphic card
- Operating System : Windows XP Home Edition
- Monitor 10.2 inch
- RAM 1GB (1 slot)
- Hard disk 160 GB IDE
- 3 port USB 2.0
- Dimensi (P X L X T) : 259mm X 180mm X 26 – 35mm
- Berat : 1,4 kg

Read More......

02 Juni 2009

Sawasdee di Surganya Kuliner Thailand

Thailand bukan hanya terkenal dengan Bangkok-nya yang kosmopolitan. Bukan pula karena Phuket dan Krabi yang memiliki pantai-pantai terbaik di dunia. Tapi, negeri Gajah Putih ini pun sangat populer dengan kekayaan kulinernya yang kental rasa rempah-rempah.

Kuliner Thailand tidak terlepas dari masyarakatnya yang terbilang “doyan makan”. Makanya, tidak heran bila di negeri seluas 510.000 kilometer ini banyak berdiri rumah makan. Dari kelas “jalanan” sampai restoran sekelas Royal Dragon yang menurut Guiness Book of Records merupakan restoran terbesar di dunia.

Hidangan khas Thailand seperti, Kai Ho Bai Toei (ayam bungkus daun), Thotman Plakrai atau Thotman Kung (ikan atau udang goreng ala Thai), berbagai jenis Yum (selada Thai), dan aneka jenis Tom yam (sup asam manis) merupakan beberapa menu yang patut dirasakan.

Di Jakarta sendiri, tidak banyak dijumpai restoran yang menyediakan menu khas Thailand. Padahal, cita rasanya sangat spicy dan dekat dengan “lidah” orang Indonesia. Beruntung buat mereka yang tinggal di Tanjung Duren dan sekitarnya. Karena di Jalan Tanjung Duren Utara IV No. 227B, terdapat sebuah restoran otentik Thailand dengan nama Royal Thai.

Eksotika kuliner Thailand memberikan inspirasi usaha bagi pemilik Royal Thai. Dia yang gemar berwisata kuliner ini membuka Royal Thai sekitar sebulan lalu. Menurutnya, restoran ini merupakan resto otentik yang rasa hidangannya tidak berbeda dengan yang ada di Thailand. “Rempah dan bumbunya kami impor langsung dari Thailand dan diolah secara khusus,” katanya.

Pemilik resto ini sering berkelana mencari tempat-tempat makan yang enak. Dia suka sekali mencoba hidangan-hidangan “baru”, makanya Royal Thai pun dicitrakan sebagai tempat makan bagi para pengelana kuliner. “Food adventure start here”.

Meski Royal Thai dibuat identik dengan Istana Grand/Royal Palace, tapi restoran berkapasitas 40 orang ini bukanlah kategori tempat makan yang “mahal”. Pemiliknya sengaja membuat Royal Thai lebih familiar dengan semua kalangan. “Ngga mahal, ngga murah. Relatif terjangkaulah,” ungkapnya.

Sawasdee
Sawasdee Ka adalah ucapan selamat datang berbahasa Thailand yang kerap dikatakan ketika Anda menginjakkan kaki di Royal Thai. Begitu juga ketika Anda pulang, ucapan Kop Kun Ka yang artinya terima kasih, akan terdengar di telinga Anda. Bahasa tersebut sengaja digunakan untuk menambah karakteristik restoran ini sebagai resto otentik Thailand.

Meski begitu, Royal Thai tidak seratus persen seperti resto di Thailand yang pada umumnya bernuansa remang-remang dan gelap. Di sini kita akan menemukan suasana seperti resto kebanyakan di Jakarta. Bergaya minimalis dengan warna yang membuat kita nyaman dalam bersantap. “Konsepnya minimalis, tapi ringan. Tadinya mau dibuat dengan konsep tradisional, cuma takut terlihat mahal,” cerita pemiliknya.

Pilihan tempat duduk pun ada ragamnya. Bila kita senang duduk di sofa yang empuk, bisa memilih tempat yang bersandar dengan dinding. Buat Anda yang terbilang masih asing dengan menu khas Thailand, foto-foto di dinding bisa menjadi petunjuk. Semua foto yang dipajang merupakan menu-menu yang diunggulkan Royal Thai.

Ada cukup banyak menu otentik Thailand yang ditawarkan resto dengan simbol mahkota dan lotus ini. Di antara yang disodorkan Pemilik Royal Thai adalah Sop Tom Yam yang dibedakan dengan Sop Tom Yam Kung (isinya hanya udang galah) dan Sop Tom Yam Seafood (baso, ikan, cumi, kerang, udang, jamur).

Sop ini berbeda dengan yang biasa disajikan resto chinesse food kebanyakan. Bumbu dan rempah yang digunakan asli dari Thailand dengan kombinasi resep khas Royal Thai ditambah kaldu udang asli yang membuatnya lebih gurih. Rasanya sedikit asam dan pedas. Wangi rempahnya sangat khas sehingga menimbulkan kesan segar. Bumbu yang digunakan pun terbilang bercita rasa “berani”.

Dalam penyajiannya, sop yang ditempatkan dalam satu mangkok, dipadukan dengan daun seledri, bawang putih tumbuk, daun sereh, dan daun ketumbar. Hal yang istimewa adalah meski isinya berbagai seafood, tapi dijamin tidak ada bau atau rasa amis ketika disantap. “Biasanya sop ini dijadikan menu pembuka bagi masyarakat Thailand. Rasanya yang segar, menjadi pembangkit selera buat setiap orang,” ujar pemiliknya.

Sapi Panggang Thailand
Setelah mencicipi menu pembuka yang rasanya membangkitkan selera, sekarang kita coba menu utama yang disediakan Royal Thai. Pemilik Royal Thai lebih merekomendasikan Sapi Panggang Thailand, Gurame Salad Mangga, Kepiting Kare, dan Kare Ijo untuk dicoba AdInfo.

Tidak lama menunggu, menu yang pertama keluar adalah Sapi Panggang Thailand. Daging sapi yang digunakan dalam menu ini adalah bagian khas dalam tanpa lemak atau biasa disebut tenderloin. Penyajiannya, daging panggang yang sudah dipotong-potong, disandingkan dengan daun selada dan daun ketumbar.

Menurut Pemilik Royal Thai, cara pembuatannya tidaklah susah. Sebelum dipanggang, daging terlebih dahulu direndam dalam bumbu tertentu selama kurang lebih 3 jam. Setelah matang, lalu disajikan dalam piring yang kemudian disiram sambal. Sambal yang disiram segaris di atas daging, terbuat dari cabe ijo dan merah, jeruk nipis, serta bawang putih.

Mengenai rasanya, ada campuran manis, asam, dan pedas, dagingnya pun cukup empuk di dalam dan terasa kering di luarnya. Setiap gigitan daging panggang ini, sangat terasa gurihnya. Tidak rugi bila kita harus merogoh kocek Rp 36 ribu untuk satu porsinya.

Kare Hijau
Kare Hijau merupakan menu berikut yang disodorkan pada AdInfo. Karena berkuah, Kare Ijo disajikan dalam sebuah mangkuk dan terlihat sangat menggiurkan. Saking nikmatnya, kata pemilik Royal Thai, ada salah satu pembeli yang tergila-gila dengan kuahnya. “Dia makan dan menyeruput kuahnya sampai tetes terakhir,” katanya.

Kare Hijau tidak lain adalah daging sapi atau daging ayam (tergantung pilihan) yang dimasak berkuah santan dengan campuran cabe hijau yang sudah dihaluskan. Selain daging, dalam satu porsinya, dicampur potongan terong, lenca, dan daun kemangi.

Rasa yang paling menonjol dari menu ini adalah gurihnya yang terpadu dari daging dan kuah bersantan. Racikan bumbu rempah-rempahnya terasa sekali dan kental. Sehingga sayang bila tidak disantap habis sampai tetes terakhir. Menu seharga Rp 32 ribu ini sangat pas bila dimakan dengan nasi. Sama halnya dengan Sapi Panggang Thailand di atas.

Selain menu-menu yang telah dijabarkan, masih ada lagi menu favorit yang tidak boleh ketinggal untuk dicoba. Seperti telah disebutkan, ada Gurame Salad Mangga yang berupa gurame goreng krispi dengan mangga muda, atau Kepiting Kare yang dimasak dengan kare, santan, saos Thailand, dan telur. Menu kepiting ini disajikan berkuah dengan taburan daun bawang.

Sebagai penutup, bisa dicoba Singkong Thai yang direbus dan dihidangkan dengan santal kental. Rasanya manis dan gurih. Bisa pula Es Campur yang terbuat dari cendol khas Royal Thai, kelapa muda, dan “home made” merah delima. Atau langsung menenggak Thai Ice Tea yang berwarna oranye dengan campuran gula dan susu. Teh yang digunakan asli di datangkan dari negeri asalnya.

Buat Anda yang ingin mencoba menu Royal Thai, berlaku diskon 20% untuk setiap pemesanan sampai akhir Mei 2009. Kemudian, setiap jumlah pembelian Rp 50 ribu, Anda bisa membeli Sop Tom Yum atau Pad Thai Noodle hanya seharga Rp 5000.

Di samping menu-menu di atas, resto yang dilengkapi free Wi-Fi ini juga menyediakan lunch set berupa, Nasi Cumi Goreng Tepung, Nasi Ayam Panggang Thai, Nasi Ayam Kemangi dan berbagai hidangan Kwee Tiau lengkap dengan minuman hanya seharga Rp 20 ribu. Anda ingin menikmati hidangan Thai, silahkan mencoba dan “Be a real food adventure” bersama Royal Thai.

Read More......

Menunggu Panas, Mengais Rezeki

Panas matahari siang itu tidak sampai menusuk ubun-ubun kepala. Teriknya sedikit bersahabat bagi kebanyakan warga ibukota. Tapi, tidak bagi mereka para pengasin ikan di Muara Angke. Hanya dengan terik yang menyengat, rezeki mereka tersurat.

Bagi para pengasin, “berjemur” membalik ikan agar cepat kering adalah hal biasa. Tak kecuali bagi penarik gerobak yang membawa ikan dari pelelangan menuju tempat penjemuran ikan. Terik yang membuncah, bagi mereka, seakan sudah menjadi anugerah. Tak peduli walau badan harus menghitam.

Faktor cuaca yang panas, oleh kebanyakan pengasin ikan Muara Angke, adalah rahmat. Mafhum saja mengingat mereka masih mengandalkan sinar matahari sebagai media alami mengeringkan ikan. Cara tradisional seperti ini hampir menjadi jurus pamungkas para pengasin ikan.

“Kalau panas sekali, waktu dua hari cukup untuk menjemur ikan. Tapi kalau cuaca mendung, apalagi hujan, perlu waktu berhari-hari agar kering. Kalau sudah begini, tidak ada cara lain kecuali menunggu terang,” kata H. Syarifuddin salah seorang pedagang ikan asin yang menjadi salah satu sesepuh di situ.

Cara tradisional mengeringkan ikan seperti ini pernah dicarikan jalan keluarnya oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI. Lewat pengurus Pengelola Hasil Perikanan Tradisional (PHPT), beberapa ahli diundang memberikan penyuluhan pada nelayan dan pengasin tentang cara mengolah ikan yang baik. Misalnya, jurus mengeringkan ikan lewat teknologi oven.

Namun, rumusan penyuluh di atas kertas jauh dari realitas di lapangan. Cara ini pernah diujicobakan pada mereka, tapi tidak bertahan lama. Yang ada, oven yang semula digunakan sebagai pengering ikan, sekarang teronggok begitu saja tidak terpakai.

Alasannya, secara kuantitatif, mengeringkan dengan oven hanya cukup menampung 1 - 2 kuintal ikan saja. Lain halnya jika ikan dikeringkan di atas penjemuran yang bisa mencapai puluhan ton. Lagipula, ketika musim ikan tiba, tidak semua orang bisa menggunakan oven pengeringan.

Dari segi rasa, ikan asin yang dijemur di bawah sinar matahari lebih gurih dan nikmat. Jauh dibandingkan ikan yang dikeringkan dengan oven. “Ikan yang dioven tidak ada rasanya. Hanya menang kering,” kata H. Syarifuddin sesekali mengisap rokok kreteknya dalam-dalam.

Lokasi pengolahan ikan asin Muara Angke yang berdiri tahun 1984, sejak awal diperuntukan untuk memfasilitasi para pengolah ikan agar produksinya bisa terkontrol kebersihannya. Berbagai jenis ikan asin, pindang, dan asap dihasilkan di sini. Beberapa toko banyak yang menjual ikan asin dalam partai besar maupun eceran. Di atas lahan seluas 4,5 hektar ini, para pedagang dan pengasin mencari banda untuk diri dan sanak saudara.

Para nelayan dan pengasin ikan di Muara Angke hidup di atas tanah pemerintah. Mereka harus mengeluarkan biaya sewa lahan sebagai tempat menjemur ikan. Antara tahun 1984 - 1999, para pengolah membayar sewa Rp 26.000/bulan. Namun, sejak tahun 2000 sampai sekarang sewanya dinaikkan menjadi Rp 50.000/bulan. Luas tiap unit 5 x 6 meter persegi.

Sebelum mendarat di Muara Angke, para nelayan dan pedagang ikan ini tinggal di Kali Baru, Cilincing, Jakarta Utara. Namun, pada 1990, mereka dipaksa angkat kaki karena di atas lahan yang mereka tinggali sekarang dibangun mega proyek pemerintah, Kawasan Briket Nusantara Marunda. Sebagian yang tidak tergusur tetap bertahan. Sedangkan yang tersisih harus pindah ke Muara Angke.

Usaha Turunan
Potensi ikan Muara Angke sungguh luar biasa. Menurut penuturan H. Syarifuddin, untuk pengasinan ikan, Muara Angke adalah tempatnya. Karena itu, Muara Angke menjadi terminal terakhir nelayan menjual hasil lautnya. Tak heran para nelayan Cilincing dan Marunda datang ke sini menjual hasil tangkapannya.

Produksi ikan asin Muara Angke antara 30-40 ton per hari. Terdiri atas berbagai jenis ikan, antara lain jambal, teri, cunang, cumi, pari dan tembang. Jumlah ini bisa bertambah ketika musim panen ikan yang jatuh Mei - Agustus. Tapi, memasuki 3 bulan di akhir tahun, jumlah ikan akan turun drastis. Selama tiga bulan ini, nyaris aktifitas menjemur ikan berhenti. Kalaupun ada, paling banyak 1 - 2 ton saja.

Harga ikan asin di sini tergantung dari jenis ikan dan musimnya. Musim seperti ini, harga per kilo ikan tenggiri sekitar Rp 45 ribu, jambal Rp 27 ribu, cumi Rp 30-35 ribu, tembang Rp 3 ribu dan ikan beesan (biasanya dipakai membuat pelet) Rp 1.500.
Para nelayan ini bergabung dalam Koperasi Mina Jaya yang tidak menangani pemasaran dan produksi, melainkan hanya menyediakan fasilitas pengolahan secara kredit seperti, garam atau uang untuk membeli bahan baku dari nelayan.

Namun, posisi koperasi ini sekarang tidak sentral seperti dulu. Tidak semua pedagang ikan menggunakan jasa koperasi. Pasalnya, sekalipun tanpa meminjam kredit dari koperasi, para pedagang bisa meminjam cukup dengan menghutang dari pedagang lainnya. Model kedekatan dan kepercayaan satu sama lain adalah salah satu cara mendapat pinjaman yang berjalan selama ini.

Ada belasan pedagang ikan asin ada di sini. Kebanyakan datang dari daerah pantai utara Jawa. Tidak semuanya pedagang besar, banyak juga yang kecil. Pedagang seperti H. Syarifuddin, misalnya, hanya menjual ikan untuk pembeli lokal. Ada juga pedagang yang menjual ikannya sampai ke Lampung. Biasanya diangkut 2 - 3 truk sekali kirim.

Tapi, pedagang seperti H. Syarifuddin mampu membesarkan keenam anaknya. Beberapa lulus di perguruan tinggi dan berdagang, bahkan ada yang menjadi polisi. Dengan kondisinya sekarang ini, dirinya masih mampu menggaji 5 karyawannya masing-masing Rp 1 juta. Gaji yang mereka terima sudah bersih, di luar makan dan rokok.

Kadang-kadang, kalau penjualan lagi bagus, para pengasin diberi uang jajan. Besaran gaji, biasanya naik sesuai musim ikan. Meski hanya sebagai pekerja pengasin, mereka selalu mendapat tunjangan hari raya dari majikannya, para pedagang.

“Membedakan pedagang besar dengan kecil patokannya cukup mudah. Kalau ikannya dikirim sampai ke Lampung itu besar. Karena ikan yang dikirim bisa terangkut oleh dua sampai tiga truk sekali jalan,” ujar H. Syarifuddin.

Selain Lampung, pasokan ikan Muara Angke juga memenuhi pasar lokal seperti Bandung, Serang, Garut, dan sekitarnya. Ada juga yang diproduksi keluar pulau dan kebutuhan ekspor.

“Dulu, menjadi pedagang ikan asin cuma modal dengkul. Kalaupun ada itu hanya kepercayaan. Tapi, untuk sekarang, kepercayaan saja tidak cukup. Sekarang banyak hal sudah berubah. Perlu modal besar,” kenang kakek dengan 12 cucu ini.

Selain modal dengkul, seperti yang dialami H. Syarifuddin, usaha pengasinan ikan adalah warisan turun temurun. Tidak sedikit pedagang sekarang adalah pewaris dari orang tuanya yang dulu menjadi pedagang ikan asin. Salah satunya adalah Hj. Eti, pewaris dan anak dari Hj. Uniah. Hj. Eti merupakan satu dari sekian pedagang besar yang biasa mengirimkan barangnya ke Lampung. Kini karyawannya mencapai belasan orang.

Menurut penuturan warga kampung nelayan, nelayan, pengasin dan pedagang Muara Angke kebanyakan datang dari Indramayu. Khusus pedagang, mereka datang dari Kampung Parean, salah satu kampung nelayan di Indramayu. Ada juga yang datang dari Serang, Tangerang, Tegal, dan Pekalongan.

Selain berdagang ikan, mereka juga berdagang garam yang dipakai untuk mengasinkan ikan. Barangnya mereka datangkan langsung dari Indramayu dan Cirebon. Awalnya, mereka mengambil dari koperasi. Namun, karena urusan pembayaran dan administrasi yang panjang, telah memaksa mereka mendatangkan garam dari kampung halamannya.

Sekarang, setelah digunakannya penyimpanan ikan di ruang pendingin (cold storage) keadaan berubah. Ruang pendingin ini dipakai mengawetkan ikan sehingga tekstur ikan terjaga dari kelayuan. Dengan pendingin, ikan atau cumi bisa bertahan 1 - 2 bulan.
Bagi pedagang kecil, cara ini tidak bisa ditempuh karena terbatas modal. Hal ini juga yang menyebabkan pemasukan mereka menurun. Butuh modal besar untuk memasukkan ikan ke sana. Memang, ikan yang disimpan dengan pendingin hasilnya bagus. Untuk yang bermodal besar, tidak sulit menempuh jalur ini.

Melihat kondisi tersebut, kontribusi pemerintah dalam pengadaan ruang pendingin dengan harga terjangkau mampu menaikkan harga ikan para pedagang kecil. Sehingga secara ekonomi, mereka juga terangkat. Sebagai negara kepulauan, pemerintah sudah saatnya mencari jalan keluar agar produksi hasil laut tangkapan nelayan memiliki daya jual. Saat ini saja, produksi ikan asin dari Muara Angke belum bisa masuk pasar ritel modern. Sayang. Potensi yang begitu besar, belum tergarap maksimal.

Read More......

Spesialis Iga Sapi Penyet Suroboyoan

“Sumpah iga ene enak banget!!! luarnya garing, dalamnya empuk! sambalnya mantab, plus taburan bawang goreng kering bikin tambah lengkap...”

Penggalan kalimat di atas bukan bikinan atau pesanan. Tapi, sebuah ekspresi, penghayatan beberapa orang yang menuliskan pengalamannya di blog setelah merasakan iga sapi penyet Warung Léko asli Surabaya yang berdiri 2006 silam ini.

Setelah sukses di Surabaya, Warung Léko kini memiliki beberapa cabang dan franchise yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Salah satunya di Jakarta yang bertempat di Rukan Cordoba Bukit Golf Mediteranian, Pantai Indah Kapuk. Meski hadir di tengah kawasan elit, kesederhanaan masih menjadi gambaran yang tidak bisa dipisahkan darinya.

Sejak awal berdiri, kesan sederhana itu nampak dari gaya warungan sebagai konsep yang diusung pemiliknya. Selain membuat akrab sesama pelanggan, suasana warungan lebih dekat di hati masyarakat kita. Tidak ada kesan glamour, eksklusif atau serba wah lainnya.

Tengok saja meja dan kursi panjangnya, mirip warteg, yang menandakan semua orang di sana sama. Tanpa status, pangkat, jabatan, duduk sama rata menikmati iga sapi penyet yang disajikan. Ada juga deretan kursi bertahta payung penahan panas di teras luar yang langsung berhadapan dengan jalan boulevard PIK.

Menurut Pemilik Warung Léko PIK, konsep warungan sudah lekat dengan gaya hidup masyarakat. “Kalau iga sapi ada di restoran dan hotel itu sudah biasa. Tapi, kalau di warung, kan belum ada. Inilah yang menjadi ide kakak saya sejak awal, iga sapi penyetnya mengusung konsep warungan. Lagipula, iga sapi di tempat mewah, harganya jauh dari standar ekonomi masyarakat kita.”

Nama Léko sendiri dalam bahasa Jawa Suroboyoan berarti lahap. “Mas bisa lihat sendiri, orang yang makan di warung pasti memberi ekspresi tersendiri. Tanpa sungkan, mereka makan dengan lahap sesekali mengusap peluhnya yang jatuh karena saking nikmatnya. Sensasi ini yang kami hadirkan dari Warung Léko,” terang pria alumnus Universitas Petra Surabaya ini.

Merujuk komentar di atas, tak salah jika Warung Léko menghadirkan suasana warungan dengan menu spesial iga sapi penyet. Awalnya, saya heran mengapa iganya harus “penyet”? Setahu saya dipenyet berarti dipencet atau ditekan dari kedua sisi.

Ternyata keheranan saya tadi berujung pada pemahaman setelah pemiliknya menjelaskan bahwa istilah penyet merujuk pada cara mengolah sambalnya yang diulek di atas cowet atau cobek dari gerabah. Jadi, iga penyet maksudnya iga yang disajikan dengan sambal penyet.

Di tengah kepungan sambal instan kemasaan botol atau saset, sambal penyet setidaknya membawa kita kembali pada romantisme tradisi cara menyambal nenek moyang yang terlupakan. Dengan bahan terasi, cabai, dan garam yang dibuat secara manual di atas cobek, mengembalikan aroma khas yang lama hilang. Spesialnya lagi, bahan terasinya didatangkan langsung dari Surabaya.

Sedangkan iganya adalah iga sapi super dari pejantan lokal karena kualitas dagingnya baik dan sedikit lemak.

Iganya Nendang!
Sesuai dengan namanya, iga sapi penyet menjadi menu andalan khas Warung Léko. Sampai sekarang, Warung Léko tetap menyajikan iga sapi penyet sesuai pakemnya yaitu menggunakan piring dari gerabah atau tanah liat sebagai tempatnya. Di permukaan piring yang dilumuri sambal penyet tadi menjadi alas iga sapi dengan taburan bawang goreng di atasnya. Tak ketinggalan lalapan daun kol, kemangi dan mentimun menjadi teman setia sambal dan iga.

Satu porsi iga penyet berisi tiga potong iga besar yang pastinya bakal membuat selera makan Anda menjadi-jadi. Pasalnya, olahan iga sapinya terasa empuk sekali. Hanya dengan dua sentuhan jari tangan kita, daging iga mudah terkelupas dari batang tulang.

Hal yang membuat iga sapi penyet jadi dambaan adalah sambalnya yang terkenal pedas. Bisa dipastikan rasa pedas ini yang membuat orang lahap ketika menyantapnya. Namun, bagi yang tidak terbiasa dengan sambal pedas, tersedia sambal tomat.
Rasa pedas ini memang dipertahankan sedari awal. Ada 4 macam sambal yang bisa disesuaikan dengan selera pelanggan yaitu, sambal tidak pedas, sedang, pedas, dan ekstra pedas.

Menurut pemiliknya, pelanggan yang datang ke Warung Léko pasti mencari iga penyet. Tapi, banyak menu andalan lain yang tidak kalah dari iga penyet, sop iga misalnya. Karena disajikan di atas kompor, sop iga ini tetap hangat sehingga aroma kuah dagingnya tetap terasa sepanjang kita menikmatinya. Untuk menu sop iga, selalu ditemani sambal, suwiran daun bawang, dan jeruk nipis.

Di Warung Léko, ayam penyet, gurame penyet, otot penyet, untuk menyebut beberapa, adalah menu yang juga banyak dipesan selain iga penyet tentunya. Selain menu tadi, jangan Anda lewatkan cah kangkung yang ijo royo-royo dan cah toge.

Tapi, untuk minuman, Warung Léko menyajikan menu pada umumnya seperti, kelapa ijo, es cincau susu, teh tubruk, es teh manis dan aneka jus. Ketika Adinfo menanyakan kenapa menu minuman tidak spesial seperti iganya, pemiliknya hanya menjawab, “Kalau ke Léko, yang dicari iganya bukan minumannya.”

Di balik rahasia cita rasa khas Warung Léko, adalah keistimewaan bumbunya yang didatangkan langsung dari Surabaya. Hal ini berlaku untuk semua Warung Léko di manapun. “Rahasia bumbu dipegang mamah saya. Saya sebagai anaknya sendiri tidak tahu,” terang pemiliknya memberi sedikit bocoran pada Adinfo.

Meski baru dibuka 25 Maret lalu, Warung Léko yang juga akan hadir di wilayah Puri Kembangan , Jakarta Barat ini, sudah memiliki banyak pelanggan dari Pluit, Muara Karang, PIK dan sekitarnya. Pada hari-hari biasa, 150 kilogram iga sapi, atau setara dengan 400 porsi, bisa habis untuk memenuhi selera pelanggan yang datang. Sedangkan pada Sabtu dan Minggu, bisa habis sekitar 560 porsi. Seringkali, mereka yang mau menikmati iga sapi di akhir pekan harus buru-buru kalau tidak mau masuk waiting list.

Dari pada menambah kebingungan tak berpangkal, silahkan datang dan rasakan sendiri menu Warung Léko yang buka dari pukul 11.00 - 10.00 malam. Selain bisa dinikmati di tempat, Warung Léko juga menerima pesan antar dengan minimum pemesanan 3 porsi iga penyet untuk wilayah Pluit dan sekitarnya.

Read More......

Inilah Kunci Sukses Pemilik Usaha

Seiring semakin banyaknya pemain bisnis dan tingginya tingkat kompetisi, seorang pengusaha tidak cukup hanya mengandalkan modal. Bila ingin mendapat lebih banyak keuntungan, mereka harus memiliki motivasi yang kuat dan strategi bisnis yang tepat.

Presentase kegagalan bisnis rata-rata sangat tinggi. Berkisar 80% lebih dalam 5 tahun pertama. Penyebabnya, bisa bermacam-macam dan sering kali para pengusaha harus menelan pil pahit kegagalan karena mereka “tidak belajar”.

Tidak belajar? Ya, kebanyakan para pengusaha atau perusahaan tidak belajar bagaimana membuat rencana kerja, tidak belajar bagaimana membuat strategi bisnis untuk memenangkan kompetisi, dan tidak belajar bagaimana caranya agar perusahaan bisa mengarah pada tujuan yang tepat.

Kalau para pengusaha sendiri seperti itu, bagaimana dengan karyawan-karyawannya? Mereka yang notabenenya berada dalam satu tim, harus pula memiliki rencana kerja, strategi bisnis, dan tujuan kerja yang tepat.

Menurut Master Licence & Coach Brian Tracy’s FocalPoint Coaching, Ellies Sutrisna, setiap orang atau setiap pengusaha itu memiliki jumlah waktu yang sama dalam keseharian. Tapi, kenapa ada orang yang lebih sukses dibanding lainnya? Itu karena mereka (orang sukses) benar-benar menggunakan waktunya dalam mengejar kesuksesan.
“Mereka yang sukses sudah punya arahan dan tujuan yang jelas. Mereka sudah belajar dan menerima bimbingan bisnis yang tepat,” lanjut wanita lulusan University of Wollongong New South Wales, Australia ini.

Bimbingan bisnis (business coaching) dari orang atau institusi yang tepat memang sangat diperlukan pribadi, pengusaha, atau karyawan dewasa ini. Bila tidak, mereka akan tergilas roda kompetisi yang semakin hari semakin ketat.

Tujuan utama dari bimbingan bisnis tidak lain adalah peningkatan profit. Dengan bimbingan bisnis, para pengusaha atau perusahaan bisa menetapkan target yang akan dicapai dan memiliki “pegangan” untuk mencapainya.

Dalam program bimbingan bisnis seperti yang dilakukan Ellies Sutrisna dengan FocalPoint-nya, setiap orang akan dibimbing secara privat, istilahnya “one on one business coaching”. Hal tersebut dilakukan karena memang setiap orang atau perusahaan memiliki masalah dan solusi yang berbeda-beda.

“Bimbingan bisnis untuk pengusaha rumah makan tentunya berbeda dengan pengusaha jasa antar barang,” ujar Ellies yang pernah menulis buku “5 Jurus Jitu Melejitkan Karir” dan “Tetap Nyaman Bekerja dengan Bos Temperamental”.

FocalPoint
Dalam mencari pembimbing usaha, tentunya para pebisnis harus memertimbangkan berbagai hal. Terutama mengenai materi yang diberikan dan kredibilitas coach-nya. FocalPoint sendiri merupakan perusahaan pelatihan dan pengembangan bisnis berskala internasional. Program-programnya sudah diriset lebih dari 25 tahun dan disusun oleh seorang bernama Brian Tracy di Amerika Serikat.

Brian Tracy sudah membuat sekitar 50 judul buku dan 300 materi audio video yang berkaitan dengan motivasi dan pengembangan bisnis. Konsultan bisnis dan pengembangan terbaik di dunia ini telah berpengalaman dalam membimbing perusahaan berskala internasional seperti, IBM, McDonald Douglas, Johson & Johnson, The Million Dollar Round Table, dan ratusan perusahaan dalam Fortune 500 Companies. Setelah eksis di beberapa negara, FocalPoint melebarkan sayapnya di Indonesia sejak awal tahun 2009.
FocalPoint akan membimbing para pemilik bisnis untuk mengerti dan mengimplementasikan konsep bisnis yang sudah terbukti. Sekaligus mengajarkan strategi dan taktik yang dijamin akan menghasilkan “return on investment” yang sangat cepat.

Siapa saja bisa mengikuti program-program yang diselenggarakan FocalPoint. Baik pemilik usaha, maupun karyawan dalam satu perusahaan. “Sebenarnya, bimbingan bisnis ini bukan untuk semua orang, tapi hanya untuk mereka yang mau sukses,” ujar Ellies yang memulai karirnya di tahun 1989.

Program yang diberikan FocalPoint terdiri dari beberapa area kunci yang berhubungan langsung dengan kesuksesan. Seperti, kepemimpinan, manajemen, delegasi, produktifitas, pertumbuhan, pengambilan keputusan, ekseskusi, dan lain sebagainya.

One on one business coaching
Kalau ada yang bilang bisnis itu bisa dipelajari secara otodidak, hal tersebut bukanlah mustahil. Apalagi sekarang ini sudah banyak diterbitkan buku-buku dan CD pengembangan bisnis atau bisa pula mencarinya di internet. Bahan-bahan tersebut dapat langsung diterapkan dalam bisnis, tidak perlu bersusah payah mengikuti bimbingan, training atau workshop bisnis.

Memang betul hal tersebut bisa dipelajari dari berbagai media yang menjabarkan pengembangan bisnis. Tapi, menurut Ellies, dalam penerapannya, diperlukan disiplin, semangat, dan konsistensi yang tinggi. Bila hal itu tidak ada, mustahil kesuksesan bisa didapat.

Sebaliknya, bila kita mengikuti program seperti yang diberikan FocalPoint, kami bisa mengontrol hasil yang didapat. Sekaligus memberikan arahan-arahan yang sekiranya bisa dimaksimalkan dalam meraih kesuksesan. “Setiap pertemuan, kita pasti akan memberikan penilaian, kontrol, dan pengarahan yang jitu dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan,” ucap Ellies.

Begitu juga bila pemilik bisnis memiliki masalah dengan usahanya. Misal saja, ketika diarahkan menggiatkan promosi, ternyata mereka tidak punya dana promosi. Apa yang harus mereka lakukan? Di sinilah peran FocalPoint untuk memberikan solusi dari masalah tersebut.

“Kami memiliki 21 cara mendapatkan uang untuk masalah tersebut. Kami juga akan memberi pengertian akan manfaat promosi itu sendiri. Hitungannya, bila kita mengeluarkan bujet promosi senilai Rp 2 juta, karena terus dipromosikan, profit akan meningkat jadi dua kali lipat. Apa mereka ngga mau?” jelas Ellies.

Di samping hal-hal tersebut, FocalPoint juga akan memberi motivasi buat setiap kliennya. Sekaligus memberikan keseimbangan antara kehidupan bisnis dan pribadi. “Sering kali, kondisi orang tidak stabil karena suatu peristiwa atau kondisi tertentu. Nah, di sinilah peran kita untuk memberikan motivasi agar ‘obor semangat’ mereka terus menyala,” jelas Ellies.

Dalam program bimbingan bisnis one on one business coaching yang diberikan FocalPoint, setiap orang akan dikontrak selama 1 tahun dengan jumlah pertemuan 1X dalam seminggu. Tapi, seperti yang telah disebutkan, tidak semua orang bisa mengikuti program ini, kecuali mereka yang memang ingin sukses.

“Akan ada evaluasi sebelum kontrak dan syarat seperti, harus memiliki keinginan untuk sukses dan komitmen untuk melaksanakan. Terutama masalah waktu dan penerapan rencana yang telah dibuat,” kata Ellies.

100% Uang Kembali
Mungkin ada pemilik bisnis yang meragukan program bimbingan yang ditawarkan FocalPoint. Buat apa mereka membayar sejumlah uang kalau tidak ada hasilnya nanti? Apakah FocalPoint mau peduli dan bertanggung jawab kalau pemilik bisnis tetap tidak bertambah profitnya setelah mengikuti program bimbingan?

“Saya percaya dengan metode dan sistim yang diberikan Bryan Tracy akan bermanfaat buat pemilik usaha. Bila pemilik bisnis tidak merasakan manfaatnya, investasi yang diberikan pada kami, akan dikembalikan 100%,” tegas Ellies.

Lalu, bagaimana cara mengukur keberhasilan pemilik usaha? Biasanya, ukuran keberhasilan dinilai dari rencana target profit yang akan didapat setelah mengikuti bimbingan bisnis. Bisa juga tujuan-tujuan lain di luar nilai finansial.

Tapi, pemilik bisnis tidak bisa sembarangan dalam menentukan target profit tersebut. Harus dilihat kondisi perusahaan dan analisa beberapa hal seperti, laporan keuangan, histori perusahaan, dan sebagainya. Dari situ, baru bisa ditentukan target yang sekiranya pantas. “Kebanyakan, hanya menginginkan profitnya meningkat 100%,” kata Ellies.

Bukan hanya sampai di situ, FocalPoint juga akan memantau perkembangan bisnis setiap kliennya. Termasuk, membantu klien ketika sedang menghadapi transaksi dagang atau perjanjian-perjanjian yang bersangkutan dengan bisnisnya. “Bila klien butuh bantuan, kami bersedia membantu melalui telepon,” ungkap Ellies.

Dalam bimbingan bisnis, selain program-program yang tepat, pemilik bisnis pun harus memiliki komitmen yang kuat. Selai ada motif, mereka juga harus konsisten dalam melakukan aksinya. Dalam arti, pemilik usaha harus benar-benar melakukan apa yang diberikan dalam program bimbingan bisnis. Tanpa komitmen yang kuat, bimbingan bisnis ini tidak akan ada artinya.

Read More......

  © Blogger template The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP